MEMBANGUN JIWA DAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DENGAN PENGETAHUAN LOKAL MADURA

PRIBANUS WANTARA

Staf Pengajar Fakultas Ekonomi

Universitas Trunojoyo Madura

(pribanus_w@yahoo.com)

ABSTRAK

            Kewirausahaan merupakan salah satu indikator yang dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Madura, baik dalam sektor mikro maupun makro. Membangun kewirausahaan mutlak harus dilakukan pasca Jembatan Suramadu dioperasikan supaya masyarakat Madura tidak hanya menjadi penonton, namun harus ikut menjadi pelaku perekonomian dalam konteks industrialisasi.

Tulisan ini mencoba menyoroti persoalan bagaimana membangun jiwa dan kompetensi kewirausahaan berwawasan lokal Madura bagi Mahasiswa (Universitas Trunojoyo) di Madura, dengan struktur pembahasan, meliputi : pendahuluan, definisi dan hakekat kewirausahaan, keterkaitan UKM dan kewirausahaan, profil Madura, membangun kewirausahaan lokal Madura, kendala dan upaya pemberdayaan, rekomendasi, penutup.

 

 BUILDING SOUL AND COMPETENCE OF ENTREPRENEUR WITH LOCAL KNOWLEDGE MADURA

ABSTRACT

Entrepreneur is one of indicator which can jack up economic growth at Madura, well in micro sector and also macro. Building entrepreneur is absolute has to be done after Suramadu bridge is run, so society Madura not only becomes audience, but must follow as economics agent in the context industrialization.

This paper to spot problem how build soul and competence of entrepreneur with Madura local knowledge for student (Trunojoyo University) at Madura, with study structure, for example: introduction, definition and essence of entrepreneur, SME relevance and entrepreneur, Madura profile, building local entrepreneur Madura, constraint and effort of empowerment, recommendation,

Pendahuluan

Seperti dikutip dari harian Kompas (Kompas, 3 Nopember 2009) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyiapkan konsep kurikulum berbasis kewirausahaan yang rencananya mulai diterapkan pada tahun akademik 2010-2011.

Substansi kurikulum berbasis kewirausahaan, pada dasarnya merupakan usaha dalam rangka pembentukan karakter kewirausahaan kepada para mahasiswa termasuk rasa ingin tahu, fleksibilitas berfikir, kreatifitas, dan kemampuan berinovasi. Upaya yang pertama harus dibentuk adalah “flexibility thinking” dengan mendorong kreatifitas mahasiswa. Mahasiswa tidak akan kreatif kalau pikirannya kaku. Kreatifitas dan daya inovasi tidak akan tumbuh apabila model pemikiran yang dibentuk perguruan tinggi menggunakan model pemikiran yang kaku.

Sementara itu, pasca direalisasikannya pembangunan Jembatan Suramadu (JS) maka diharapkan tidak hanya sekadar menjadi jembatan manusia, tetapi juga merupakan jembatan ekonomi. Nantinya, eksistensi JS harus bisa berdampak positif bagi pembangunan ekonomi Madura, termasuk bagi sektor UKM. Hal ini cukup beralasan karena sektor UKM telah menjadi salah satu pilar penting dalam perekonomian regional Madura dalam konteks industrialisasi.

Seyogyanya, gelombang industrialiasi yang akan terjadi di Madura harus dijadikan sebagai peluang strategis sekaligus tantangan positif untuk meningkatkan kualitas dan pemberdayaan diri agar mampu memainkan peranan yang strategis di dalamnya. Akan tetapi, tentu saja industrialisi menurut HAR Tilaar (1998) dalam Winarningsih (2006) menuntut adanya masyarakat yang mempunyai keunggulan kompetitif dengan SDM mumpuni, dan kekuatan investasi modal intelektual serta penguasaan masyarakat terhadap sarana informasi yang serba superhigh technology.

Industrialisasi di Madura akan ditandai dengan maraknya kehidupan bisnis yang menjanjikan di masa depan, sehingga dituntut adanya kemampuan entrepreneurship yang baik. Untuk itu, masyarakat/mahasiswa di Madura harus menyadari kemampuannya untuk bersaing karena aktivitas dan pekerjaan dalam industrialiasi menuntut kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan (skill) khusus yang didukung jiwa kewirausahaan yang baik. Hal ini hanya dapat diraih dengan belajar keras dan menuntut ilmu pengetahuan (berpendidikan) setinggi mungkin.

Definisi, Hakekat dan Prinsip Kewirausahaan

Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama.

Wirausaha diterjemahkan dari kata entrepreneur.  Dalam Bahasa Indonesia, pada awalnya dikenal istilah wiraswasta yang mempunyai arti berdiri di atas kekuatan sendiri. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi wirausaha, dan entrepreneurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan.

Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya :

Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha.

Istilah kewirausahaan juga dipahami sebagai proses mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (innovative) dan bermanfaat untuk memberikan nilai lebih. Dari beberapa konsep yang ada terdapat 6 hakekat penting kewirausahaan (Suryana, 2003 : 13), yaitu :

–          Kewirausahaan adalah nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis. (Ahmad Sanusi,1994).

–          Kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).

–          Kewirausahaan adalah proses penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer 1996).

–          Kewirausahaan adalah nilai yang diperlukan untuk memulai usaha (start up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro,1997).

–          Kewirausahaan adalah proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.

–          Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Berdasarkan keenam konsep tersebut, secara ringkas kewirausahaan  dapat didefinisikan sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko.

Hakekat kewirausahaan menurut Peter F Drucker (1994) dikatakan bahwa terminologi kewirausahaan sampai sekarang masih belum ada. Umumnya memiliki hakikat yang hampir sama, yaitu merujuk sifat, watak dan ciri-ciri yang melekat pada seseorang. Ciri yang melekat adalah : (a) Mempunyai kemauan keras; (b) Memiliki keinginan mewujudkan gagasan inovasi dalam usaha nyata; dan (c) Dapat mengembangkan usaha dengan jiwa tangguh.

Kewirausahaan mengandung sebuah sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya atau kiprahnya.

Seorang yang memiliki jiwa dan sikap wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Dari waktu ke waktu, hari demi hari, minggu demi minggu selalu mencari peluang untuk meningkatkan usaha dan kehidupannya. Ia selalu berkreasi dan berinovasi tanpa berhenti, karena dengan berkreasi dan berinovasi lah semua peluang dapat diperolehnya. Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya untuk meningkatkan taraf kehidupannya.

Jiwa Kewirausahaan

Proses kreatif dan inovatif (Suryana: 2003) hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa kewirausahaan. Jiwa kewirausahaan ini menurut Suryana disebutkan:

a.    Percaya diri (yakin, optimis dan penuh komitmen)

b.    Berinisiatif (energik dan percaya diri)

c.    Memiliki motif berprestasi (berorientasi hasil dan berwawasan ke depan)

d.   Memiliki  jiwa  kepemimpinan  (berani  tampil   berbeda dan berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan)

e.    Suka tantangan

Kompetensi Kewirausahaan

Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausaha seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan. Terdapat 10 kompetensi yang harus dimiliki, yaitu :

1.  Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.

2. Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadminis-trasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien.

3.  Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.

4.  Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.

5.  Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.

6.  Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.

7. Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan / memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.

8. Statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan memuaskan.

9.  Knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.

10. Copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas tersurat, tidak tersirat.

Keterkaitan UKM dan Kewirausahaan

Sejak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997, sektor UKM telah menunjukkan peran yang sangat penting dalam menggerakkan ekonomi baik dalam lingkup nasional maupun daerah. Sejalan dengan itu, perhatian pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah terhadap sektor UKM pun dari waktu ke waktu semakin besar. Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting  keberadaan UKM.  Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. Kedua, sebagai bagian dari dinamikanya, UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar.  Kuncoro (2000) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja, meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga.

UKM memiliki peran penting lainnya bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi. Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar  bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru.  Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan  dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat.

Pengembangan UKM merupakan upaya yang sangat penting dan strategis dalam upaya pemulihan ekonomi, mengingat jumlah UKM yang mencapai 40 juta serta penyerapan tenaga kerja yang mencapai 88 % dari jumlah tenaga kerja di Indonesia. Terlebih lagi dalam kondisi krisis bangsa Indonesia yang masih berkepanjangan sampai saat ini, justru UKM lebih resisten.

Keandalan UKM dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

–          Karakteristik usaha UKM cenderung pada spesialisasi produk (hal ini merupakan kebalikan dari prinsip konglomerasi).

–          Faktor produksi UKM sebagian besar memanfaatkan sumber daya lokal.

–          Sumber pendanaan kegiatan UKM tidak hanya mengandalkan pendanaan dari perbankan.

Membangun Kewirausahaan Lokal Madura

Membangun kewirausahaan lokal Madura sangat dipengaruhi oleh adanya faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung dalam membangun kewirausahaan lokal di Madura, meliputi : (1). Kebijakan Pemerintah yang Pro Kewirausahaan, (2) Pendidik/ilmuwan/profesional yang konsen pada masalah kewirausahaan; (3) Wirausaha yang semakin banyak; (4) Mahasiswa yang berbudaya wirausaha. Sedangkan, faktor penghambat, meliputi :  (1) Rendahnya persepsi mahasiswa tentang kewirausahaan; (2) rendahnya produktivitas, SDM, dan lainnya; (3) Minimnya akses dan aset (Gambar 1)

Selanjutnya, arah kerangka pengembangan adalah mengelola kewirausahaan berbasis potensi lokal berdaya saing global. Sasaran pengembangan meliputi: (1) peningkatan PDRB; (2) penurunan tingkat pengangguran; (3) penurunan tingkat kemiskinan; (4) peningkatan ketaqwaan, dan lainnya. Prinsip pengembangan kewirausahaan adalah : (1) membangun wirausaha dengan karakteristik pribadi yang tangguh, kreatif, inovatif, cerdas, mandiri, produktif, mampu memanfaatkan peluang, disiplin, teknologi, terbuka, dan lainnya; (2) nilai atau etika sesuai Al-Quran dan Hadist; (3) Nilai sesuai dengan Jati diri dan Budaya Masyarakat Madura. Sedangkan, target akhir pencapaian adalah kesuksesan dunia dan akhirat.


Gambar 1. Kerangka Pengembangan Kewirausahaan lokal Madura

Kendala dan Upaya Pemberdayaan

Kendala yang dihadapi dalam membangun budaya kewirausahaan juga terjadi di lingkungan kampus. Keengganan lulusan perguruan tinggi memilih menjadi entrepreneur salah satunya karena terjebak dalam mitos, beberapa mitos yang membelenggu pemikiran mereka diantaranya:

  1. Sebagai entrepreneur  perlu memiliki uang (modal)
  2. Entrepreneur itu dilahirkan (keturunan), bukan diciptakan
  3. Entrepreneur selalu merupakan penemu (Inventors)
  4. Entrepreneur adalah pelaku, bukan pemikir
  5. Entrepreneur perlu nasib baik
  6. Entrepreneur harus sesuai dengan profil
  7. Entrepreneur mengabaikan kesenangan
  8. Entrepreneur adalah orang yang canggung baik di dunia akademis maupun di masyarakat.
  9. Entrepreneur mencari sukses tapi pengalaman menunjukkan tingginya tingkat kegagalan.
  10. Entrepreneur adalah risk taker yang ekstrim.

Terkait dengan faktor pendukung, yakni terdapat wirausahawan dalam jumlah banyak, sesungguhnya semangat dan budaya kewirausahaan itu bisa dipelajari. Untuk itu, perlu cara pembelajaran wirausaha yang berbasis pada ilmu, dan amal sholeh. Jika mengamati perkembangan jumlah wirausahawan di Indonesia bisa dikatakan lambat. Alasannya belum berkembangnya budaya entrepreneurship dalam masyarakat kita, sebab mayoritas masyarakat kita berada dalam struktur dan alam pikiran agraris.  Wirausaha masih belum dianggap sebagai suatu yang bernilai. Menjadi pedagang dianggap bukan pekerjaan terhormat. Lebih terhormat jika menjadi PNS ataupun pegawai swasta. Alasan lain ialah konsep pendidikan yang menghasilkan pekerja dan bukan pencipta lapangan kerja masih merupakan arus utama dalam pendidikan nasional kita. Menjadi karyawan adalah alasan utama mengapa seseorang melanjutkan kuliah. Gambaran tentang minat mahasiswa Universitas Trunojoyo berwirausaha yang pengelolaannya dilakukan oleh Trunojoyo Entrepreneurship Centre selama dua tahun yakni tahun 2009 dan 2010,  digambarkan sebagai berikut:

         Tabel 1: Perkembangan Jumlah Peserta Pelatihan Kewirausahaan

Tahun

Terdaftar

Berminat

(menyelesaikan pelatihan)

 Tidak Berminat

(tidak menyelesaikan pelatihan)

2009

153

128

25

2010

402

309

93

Sumber: Trunojoyo Entrepreneurship Centre

Tabel 1 menggambarkan bahwa minat mahasiswa Universitas Trunojoyo untuk berwirausaha mengalami peningkatan dari 128 mahasiswa pada tahun 2009 menjadi 309 mahasiswa pada tahun 2010.

Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pelatihan kewirausahaan (khusus mahasiswa yang berminat) selanjutnya membentuk kelompok dengan jumlah anggota maksimal 5 (lima) orang dan tiap kelompok menyusun proposal bisnis kewirausahaan. Selanjutnya gambaran tentang jumlah proposal kewirausahaan yang diusulkan oleh mahasiswa yang berminat dan yang lolos digambarkan pada Tabel 2.

Tabel 2: Jumlah Proposal Yang Diusulkan dan Lolos

Tahun

Usulan

Lolos

2009

31

25

2010

47

29

Sumber: Trunojoyo Entrepreneurship Centre

Tabel 2, memberi gambaran bahwa jumlah proposal kewirausahaan yang diusulkan oleh mahasiswa dan yang lolos selama dua tahun mengalami peningkatan, meskipun jumlah yang lolos tidak begitu besar peningkatannya dibandingkan dengan jumlah proposal yang diusulkan, namun gambaran ini menunjukkan bahwa minat mahasiswa Universitas Trunojoyo untuk berwirausaha menunjukkan gambaran yang positif.

Rekomendasi

Kewirausahaan jangan dipahami hanya sekedar kemampuan membuka usaha sendiri. Namun lebih dari itu, kewirausahaan dipahami sebagai momentum untuk mengubah pola pikir, mentalitas dan sosial budaya. Lebih dari itu, membangun kewirausahaan diarahkan pada proses transformasi kultur budaya masyarakat kepada generasi berikutnya. Dengan kata lain, perlu dipersiapkan masyarakat Madura untuk berlaga di arena modernisasi dengan modal utama pelestarian dan pengapresiasian budaya lokal.

Persiapan yang perlu dilakukan, meliputi aspek: pendidikan, regulasi, sumber daya manusia, permodalan, pembiayaan, dan lainnya. Terlebih, proses untuk melahirkan wirausaha baru tidaklah sederhana, sehingga perlu waktu yang cukup untuk mengkadernya. Memang wirausaha baru bisa lahir secara alami dengan sendirinya, namun jumlahnya kecil. Perlu ada penangangan terpadu untuk menghasilkan wirausaha yang berkualitas dan jumlahnya signifikan. Seharusya keinginan untuk mandiri, itikad untuk mencari solusi atas problematika yang ada adalah bagian dari perjuangan hidup yang bernilai sebagai ibadah. Jika motifnya ibadah maka apapun yang kita lakukan menuju keberhasilan haruslah mengikuti nilai-nilai syariat, etika dan moralitas. Pembangunan kualitas diri ini agar dilakukan tiap pribadi sehingga mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Oleh karena itu, agenda membangun kewirausahaan di Madura yang dimanifestasikan melalui program pengembangan budaya kewirausahaan mestinya mampu membangun transformasi atas wacana ilmu yang berkembang. Memang tidak semua gagasan yang dikembangkan dari barat selalu buruk. Ada beberapa prinsip yang layak dikembangkan, misalnya profesionalisme, mobilitas, keterbukaan, kedisiplinan, dan pencapaian kemajuan teknologi. Namun, beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam membangun kewirausahaan di Madura hendaknya harus Madurawi dan Islami. Madurawi karena sesuai dengan nilai-nilai jati diri dan budaya masyarakat, serta menjunjung harkat dan martabat. Islami karena substansi pemikirannya diperkuat dengan prinsip-prinsip yang sesuai Al-Quran dan Al-Hadist.

Target akhir dalam membangun kewirausahaan lokal yang cocok untuk dikembangkan di Madura adalah sukses dunia-akhirat dengan pencapaian prestasi tanpa mengorbankan silaturahmi dan harmoni sosial. Alasannya, target ini sesuai dengan jati diri dan budaya masyarakat Madura. Selain itu, terkadang kita terjebak dengan pemikiran konteks kewirausahaan yang digulirkan ilmuwan barat penganut kapitalisme. Keberhasilan hanya diukur dari pencapaian nilai nominal, indikator materi atau akumulasi yang didapatkan semata. Misalnya, konsep David Mc Cleland menyebutkan bahwa untuk mencapai prestasi, terkadang harus mengoptimalkan kadar need of achievement  setinggi mungkin dan mengorbankan kadar silaturahmi atau keinginan membangun harmoni sosial (need of affiliation).

PENUTUP

Benang merah dalam tulisan ini adalah bagaimana membangun  kewirausahaan lokal Madura. Intinya bagaimana potensi kewirausahaan bisa dikembangkan sesuai dengan jati diri masyarakat dan budaya Madura, sehingga mampu berdaya saing global. Cita-cita besar ini bisa dicapai apabila ada empat (4) unsur yang bekerja sinergis dan saling mengisi. Keempat unsur syarat itu ialah pemerintah yang bersih dan berwibawa, banyak ilmuwan pendidik profesional atau intelektual yang rela melakukan penelitian yang hasilnya dipersembahkan bagi masyarakat, terdapat wirausahawan dalam jumlah banyak, serta masyarakat yang berbudaya disiplin dan berkinerja baik.

Membangun jiwa dan kompetensi Mahasiswa berwawasan kewirausahaan lokal Madura memang tidaklah mudah, lebih mudah dipikirkan dan diucapkan daripada melaksanakannya. Setidaknya, hal tersebut tercermin dari adanya kendala dalam membangun budaya kewirausahaan. Prinsip-prinsip dalam kewirausahaan adalah bagaimana membangun karakteristik yang tangguh, kreatif, inovatif, cerdas, mandiri, dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. Karena itu, pengembangan budaya kewirausahaan harus lintas bidang dan tidak sekedar berpikir bisnis.

Perhatian dan upaya untuk mengembangkan kewirausahaan telah banyak dilakukan Pemerintah, swasta dan pihak perbankan. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya perhatian tiga pihak tersebut dengan menawarkan banyak program terkait kewirausahaan. Agenda membangun kewirausahaan yang dilakukan, meliputi aspek: pendidikan, regulasi, sumber daya manusia, permodalan, pembiayaan, dan lainnya. Target akhirnya adalah pencapaian kesuksesan kehidupan dunia akhirat, yang Madurawi disesuaikan dengan jati diri dan budaya masyarakat Madura, serta Islami dengan merujuk pada Al-Quran dan Hadist.

DAFTAR PUSTAKA

Gitosardjono, Sukamdani S. Entrepreneurship : Budaya Kewirausahaan Bisa Dipelajari, Jumat, 03/07/2009

Kuncoro, M. (2002). Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia. Yogyakarta: UPP-AMP YKPN.

Meredith, Geoffrest et.al. 1996. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

Rachmad Hidayat1, Yudha Herlambang, Pengembangan Tata Kelola Industri Kecil Menengah di Madura, Jurnal Teknik Industri Vol 11 No 1 Juni 2009 Universitas Trunojoyo

Setdaprov Jatim, 2009, Kesadaran Pengusaha Madura Mulai Tergugah, 02 November 2009

Suryana,2004, Memahami Karakteristik Kewirausahaan, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan- Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah- Departemen Pendidikan Nasional

Winarningsih,S. 2006. Menyikapi Globalisasi dan Meningkatkan Budaya Kewirausahaan. Makalah Seminar. Jurusan Akuntansi FE Unpad

Yudiastuti, Ani. 2008. Membangun Budaya Dan Semangat Wirausaha Melalui Pendidikan.  Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Widya Karya Malang Artikel di Koran Pendidikan Online.